Yang Manakah Ujian Terberat?

Kehidupan Dunia itu layaknya Ilusi

Ujian yang tidak enak itu banyak yang mengemasnya membuat lebih dekat dengan Allah. Kita jarang menganggap naik jabatan, dapat mobil, anak jadi sarjana, rupawan itu ujian. Tapi kita malah menganggap dihina itu ujian. Padahal sebenarnya ujian yang lebih berat itu adalah suatu pujian.

 

Ujian yang lebih berat daripada kesusahan yaitu kesenangan.

Orang yang beriman pasti di uji. Jadi manakah yang paling berat antara ujian dihina dengan ujian dipuji itu? Yang jelas ujian yang paling bahaya itu adalah ujian yang membuat kita semakin jauh dari Allah, semakin lalai kepada Allah.

Jika seseorang dipuji misalnya, “Shalehnya dirimu”. Maka akan membuat kita lupa akan dosa-dosa yang kita lakukan. Menumbuhkan rasa ujub, ria, takabur. Sebaiknya kita senang hanya karena dipuji Allah.

Sebenarnya kita dipuji orang, karena Allah menutupi aib dan kekurangan kita. Kalau suatu saat aibnya itu dibuka? Apa yang terjadi? Pujian itu melenakan. Jika kita dipuji kita akan berusaha keras agar mempertahankan pujian. Jadi pujian dari manusia itu terus diburu. Jika sudah seperti itu ia akan menjadi semakin munafik. Lalu kemanakah “Alhamdulillah”, Segala puji bagi Allah.

Ujian dengan kebaikan “khair”. Kalau kita memiliki mobil, rumah megah, kekayaan melimpah. Apakah yakin akan bahagia?

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Ketenangan, kemantapan, kenyamanan hidup bukan dari dunia. Hanya Allah yang tahu bagaimana membahagiakan kita. Semua benda mati tidak tahu apa yang membahagiakan kita. Termasuk pasangan kita. Oleh karena itu hanya dekat dengan Allah-lah hidup akan bahagia.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“…Barang siapa yang menjadikan duniawi sebagai tujuannya, maka Allah akan memberikan kecemasan, kekhawatiran dalam segala urusannya. Dan allah meletakkan rasa takut akan kefakiran dihadapan matanya padahal ia tidak menerima dunia itu melainkan apa yang telah ditetapkan baginya dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya atau tujuannya maka Allah akan menjadikan kemudahan segala urusannya. Allah akan meletakkan rasa kaya atau kepuasan dalam hatinyan dan dunia akan datang kepadanya dengan kehinaan” (HR. Ibnu Majah)

Jadi jangan risau, kalau kita benar berharta, gelar, jabatan itu netral, tidak punya kesalahan apa-apa. Jujur, jika kita menaiki suatu mobil milik orang lain, lalu jendela mobilnya di bukakan. Adakah suatu rasa bangga? Orang yang tamak akan penilaian orang itu tidak normal hidupnya.

Kalau mendengar kata orang kaya, apa yang terpikir?

Jika jawabannya bahagia, maka anda sebenarnya belum merasakan Kaya.

Memang tiap orang takdirnya beda-beda. Misalnya naik taxi mahal. Belum lagi penyakit ria-nya. Ingin dilihat oraang aja. Belum lagi penyakit ujub. Seakan dia yang paling sukses. Nanti cara bicaranya beda kalau sudah termakan kekayaan. Mungkin ada kebaikan lain yang bisa dilakukan untuk kekayaan.

Karena kekayaan itu lebih banyak ujiannya. Tidak mudah punya harta, punya kedudukan. Seseorang yang telah diberi kekayaan akan menjadi beda, jadi lebih di agung-agungkan. Kalau tidak hati-hati, ia seperti bunglon. Jadi dimanapun ia berada ia akan menyerupai tempat itu, apakah itu tempat maksiat, lebih bahaya adalah tempat orang-orang beriman, karena ia seorang munafik belaka.

Semakin tidak kenal siapa sebenarnya dirinya itu. Makin tidak mengakui bahwa manusia itu tidak berdaya di hadapan Allah. Apakah akan bahagia karena kekayaan? Demi Allah, tidak akan diberi ketenangan oleh Allah jika hanya bahagia karena kekayaan.

Kalau Allah sayang kepada hambanya, tidak akan memberikan banyak keinginan kepada hambanya. Bagi hamba yang punya keinginan kaya, sebaiknya batalkan keinginan itu. Menjadilah berkah didalam hidup ini. di dunia bermanfaat, di akhirat berkah. Tidak penting istilah kaya, karena nafsu-lah yang ada disana. Apakah kita ingin di hormati, karena kaya?

Benarkah ujian popularitas, kekayaan itu bahaya? (Jawab jujur dalam diri sendiri karena ada Allah yang menilai)

Bahwa ujian duniawi yang datang itu benar-benar bahaya. Bukan berarti kita harus miskin, apalagi fakir. Jadi harus seperti Abdurrahman Bin Auf, semakin kaya semakin dermawan.

Jangan sampai kita lebih sibuk dengan penilaian orang, daripada penilaian Allah. Hidup apa adanya jauh lebih nyaman. Hisabnya berat bagi seseorang yang memiliki banyak kekayaan harta. Salah-salah nantinya menjadi israf (berlebih-lebihan), salah-salah nantinya menjadi mubadzir. Jadi mudah sana-sini karena ada uang. Belum nanti di akhirat. Karena setiap rupiah ada hitungannya di akhirat.

Kenikmatan itu suatu saat akan dipertanggung jawabkan dihadapkan Allah. Kalau saya kaya saya setiap malam menangis. Banyak bertaubat, minta pertolongan Allah agar dapat melewati ujian terberatnya.

Dan diantara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang shaleh.”

Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran).

Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.

(QS. At-Taubah 75-77)

Tidak banyak keinginan itu enak. Yang paling enak itu pas ingin pas dikasih oleh Allah. Pas mau menaik hajikan orang tua diberi kecukupan, pas mau menikah juga diberi kecukupan, pas memiliki anak pun diberi kecukupan untuk menyekolahkan mereka. Pokoknya serba berkecukupan. Kuncinya Yakin kepada Allah bahwa Allah Maha Mencukupi setiap kebutuhan manusia.

Hadapi setiap ujian lebih waspada. Tapi sukses kepada Allah, baik dalam kesusahan ataupun kesenangan. Tujuannya adalah agar dekat dengan Allah. Kalau kaya hati, kaya ilmu, kaya iman itu saya mau. Tapi kalau kaya harta? (Saya rasa jawab dengan jujur oleh pribadi masing-masing. ^_^)

 

*di sarikan dari Ceramah MQ kamis malam 13 oktober 2011 bersama K.H. abdullah Gymnastiar (Aa’Gym)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s