Isya ketiduran, Setan Tertawa

Suatu sore bernama “Rabu”, ku tiba di Salman. Tempat pertama yang ku pijak adalah Rumah PAS. Hari itu ku terlalu sore datang ke rumah PAS. Rencananya sih mau bermedia dan membahas training media yang akan diadakan pada sabtu ini (7/4). Kak Intan dan Kak Syida yang ku tunggu-tunggu tak kunjung datang. Serasa sia-sia datang kesini kalau begitu.

Tidak! Tidak boleh sia-sia. Ku teringat, belum mengambil kaos “kebesaran 56”. Saat itu di Rumah PAS ada kak nurul, kak nunin, kak rina, kak rizqi, ka de, ka nurman, ka riza, ka aufa. Lalu datanglah ka elin, namun pergi lagi. Yaah sudahlah di sisa waktu yang hampir mendekati magrib ku mulai mengelem sesebitan kertas.

“Pokoknya hablay harus udah beres sebelum hari sabtu!” karena apa? ya karena sabtu ini akan ada training media!

Ku jua selalu bertanya-tanya. kenapa? apakah mungkin karena kesibukkan kakak2 media sehingga membuatku selalu merasa yang paling luang waktunya diantara mereka semua? Alih-alih. Magrib berkumandang di seantero masjid. Ayo kakak-kakak saatnya Salat Magrib, tinggalkan segala bentuk aktifitas. Bukankah indah suara sang muadzin ini.

Sekalian juga membawa tas, karena setelah magrib langsung pulang, bareng kak nurul dan kak rina. Bukankah kakak putri tidak boleh berada di Rumah PAS lewat pukul 18.00?

Saat masuk masjid, ku melihat kak Bayu. muncullah presepsi-presepsi negatif (Astagfirullah)

“Ihh itu kak bayu, kenapa tadi gak bantuin mengelem kertas?”

“ahh sudahlah mungkin lagi sibuk dan banyak hal yang mesti di urusnya, mungkin saja”

“oh ia yah kan kak Bayu kul di ITB, pantas saja kalau ada di salman.”

begitulah hatiku berkecamuk.

Sudah lupakan, usai salat magrib ku berjalan bersama kak nurul dan kak rina. Menyusuri Jalan Gelap nyawang. Hingga tiba di pertigaan Jalan Tamansari. Kak nurul dan kak Rina nyebrang, naik angkot jurusan caheum-ledeng ke arah ledeng, sedang aku naik angkot jurusan yang sama ke arah caheum.

Sepanjang perjalanan itu ku melamun. Ahh entahlah apa yang ku pikir. Sampai-sampai hampir saja kebablasan lewat masjid pusdai. Setelah turun dari angkot itu, ku melihat ada angkot riung bandung, namun keburu pergi. Ku menunggu angkot cukup lama di tugu PKK, pertigaan jalan diponegoro itu.

Bulan hampir utuh, bersinar diatas tugu itu. Hey bulan apakabar? akhir-akhir ini ku jarang melihatmu. indah diatas sana. mungkin karena tertutup awan. Akhirnya ada juga angkot Riung Bandung yang datang. Naiklah, tak lupa baca doa naik kendaraan. Sayup-sayup mata ini mulai memberat, lama-lama mataku terpejam. Hingga ku terbangun karena suara adzan isya. Ku melihat sekeliling, sudah sampai Kircon ternyata.

Lambat laun, mataku mulai terpejam lagi. Nyenyak sepertinya tidurku itu. kecapean mungkin. dan sepertinya setan tertawa puas melihat keadaanku yang tengah tertidur pulas seperti itu.

“Astagfirullah!” kataku pelan, seraya membuka mata yang sedari tadi tengah terpejam.

“Hah, dimana ini?” ku bertanya-tanya kepada tiga orang penumpang paruh baya yang ada di depanku.

“Oh, ini di riung bandung neng.” jawab ibu pertama.

“oh, ini udah turun yah, lewat SMK 6?” tanyaku pelan.

“Ngga neng ini udah masuk riung daritadi” jawab ibu kedua.

“Waah udah kelewat dong”

“Nengnya tidur sih, wah kasian si neng, harusnya turun dimana gitu neng?”

“Ia, harusnya turun di borma riung”

“Wah, ada apa ini? Kenapa neng? udah kelewat yah?”

“Ini si neng kelewat turunnya” kata ibu pertama

“Si neng tidur aja sih, tenang neng nanti juga angkotnya muter lagi kok.”

Fyuuh ku tersenyum lega karena ada supir angkot baik hati sepertinya. Sebenarnya aneh juga sih, bukankah lewat pukul 19.30 angkot tidak bisa masuk lagi ke dalam kompleks Riung Bandung, hanya sampai jalan Soeta saja. Saat ku melihat jam menunjukkan pukul 20.00. aneh memang. Entahlah, jelas ketika itu ku merasa mungkin sang setan tertawa puas karena aku ketiduran.

Saat tiba di pertigaan jalan Cipamokolan ku menghentikan angkot.

“Ya, disini pak, makasih yah” ucapku

“Oh ia neng, sama-sama”

ku menyodorkan satu lembar dua ribuan dan satu lembar seribuan.

“Eh, gak usah neng gapapa”

“Lho? kenapa mang? ya udah makasih banyak lagi ya mang”

Entah kata-kataku didengar atau tiba, si emang supir angkot yang baik hatinya itu berlalu begitu saja mengejar setorannya. Padahal ku kira ongkosnya bakal kurang, eh ternyata malah gratis.

Terimakasih untuk hari ini..

Alhamdulillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s