Menunggu Hujan

Tak selamanya si biru langit itu membentang di angkasa. Tak selamanya si putih-putih awan itu menghias langit. Tak selamanya si kuning cerah itu berkuasa di langit hari. Adakalanya si biru langit itu tersibak kelabu awan. Adakalanya si kuning cerah itu sembunyi dibalik putih dan kelabu awan. Tak selamanya si putih-putih awan itu berkejaran tersapu angin.

Semuanya tak ada yang abadi. Yang abadi hanya satu Tuhan pencipta semua ciptaan-Nya yang sempurna itu. Seharusnya si biru langit memerah rona penuh kemilau cahaya jingga. Warna-warna merah muda jingga centil itu terbiaskan di setiap penjuru putih-putih awan. Namun sayang di penghujung hari itu si kelabu seenaknya berkuasa menutupi seluruh langit-langit kota kembang.

Tak ada lagi kemilau jingga memerah ronakan putih-putih awan. tak ada lagi seberkas cahaya indah memancar di penghujung hari. Tak ada lagi. Semua penjuru langit telah dikuasai si kelabu-kelabu awan. menggelapkan suasana penghujung hari. Hingga satu tetes pertama jatuh membasahi ujung kepalaku.

Sentuhan lembut itu diiringi tetesan kedua sama lembutnya. Di penghujung hari itu semua penjuru kota kembang disisir oleh serbuan tetesan-tetesan air dari langit. Sang kelabu pembawa air itu seakan lega telah melepas kepergian jutaan air dengan iramanya.

Rintik-rintik itu menahanku untuk tetap terdiam di pinggiran-pinggiran gedung peneduh tubuh. Serbuan tetesan air itu membuatku rasakan lamanya si detik-detik yang terus bergulir di jam tanganku. Menunggu hujan yang menahanku untuk tetap berada disini. Bersama hembusan angin yang tak jarang melibaskan jilbab dan rok yang ku kenakan. Sepatu dan kaos kaki sudah tak asing lagi bercengkrama dengan dinginnya air.

Basah, ya basah, hal biasa jika sernuan tetesan air menimpa bumi manusia ini. Si hijau-hijau daun yang tumbuh di sekeliling peneduhku seakan tersenyum ceria terkena tetesan-tetesan penyejuk dari pencipta-Nya itu. Keceriaan itulah yang membuatku sunggingkan segurat senyuman penghias wajah. Hati yang masgul itu perlahan menghilang. Sukma riang terbang melayang ditengah guyuran halus yang dijatuhkan sang kelabu awan.

Tak selamanya menunggu hujan itu membosankan. Hujan adalah berkah bagi seluruh mahluk yang hidup di bumi fana ini. karena hujan membawa banyak manfaat. Karena menunggu hujan itu sadarkanku akan agungnya kuasa Tuhan. Karena menunggu hujan itu buatku semakin sabar. Sabar menjadi saksi betapa berkahnya nikmat hujan di penghujung hari ini. Sabar menanti si detik-detik yang sedari dulu tetap berjalan sesuai porosnya pada jam di tanganku.

Menunggu hujanpun berakhir. Sesosok laki-laki yang selama ini selalu aku lihat di rumahku telah datang dengan membawakan sebuah payung untukku. Ia serahkan payung merah muda bercorak bunga putih itu kepadaku. Ia memakaikan jaket yang sedari tadi dikenakannya kepadaku. Sebagai bukti kasih sayangnya kepada sang buah hati. Ayah, terimakasih telah datang menjemputku. Hingga berakhirnya aku untuk tetap menunggu hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s